Perayaan Waisak di Candi Muarojambi

Perayaan Waisak di Candi Muarojambi

Akibat Corona Perayaan Waisak di Candi Muarojambi Ditiadakan

Akibat Corona Perayaan Waisak di Candi Muarojambi Ditiadakan – Perayaan hari raya Waisak 2564 BE di Kawasan Candi Muarajambi bakal, Kabupaten Muarojambi, Jambi, yang jatuh pada Kamis ditiadakan. Langkah peniadaan diambil terkait pandemi virus corona (Covid-19).

Menurut dia, setiap tahun umat Buddha di Provinsi Jambi menggelar peribadatan dalam peringatan Hari Tri Suci Waisak di kompleks percandian Muarajambi. Namun, karena pandemi yang juga belum reda, kegiatan peribadatan secara bersama-sama itu urung dilakukan.

Kawasan Candi Muarajambi sendiri telah ditutup sejak dua bulan lalu akibat pandemi virus corona. “Ada imbauan tidak boleh mengumpulkan massa,” kata Pamong Budaya Muda pada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi Andreas Novi Hariputranto.

“Tadi sudah kontak-kontakan dengan yang di Borobudur, di sana juga tidak ada perayaan Waisak,” ujarnya. Perayaan Waisak bertepatan dengan Ramadan sudah terjadi semenjak dua tahun lalu. Keberagaman dan toleransi selalu diperlihatkan ketika Waisak dirayakan.

Impian Joko untuk memperingati Waisak di tempat suci pun harus kandas. Gara-garanya, jelas virus corona yang tengah menjejakkan kakinya di Nusantara. Tak ada lagi hiruk pikuk umat di wihara.

Hangat tegur sapa antarumat bakal absen dari wihara. Pandemi memaksa semua orang untuk menjaga jarak dan tetap beraktivitas dari rumah, tak terkecuali ibadah.

Sebut saja prosesi Kebaktian Waisak yang biasanya berlangsung semarak dengan nyanyian ala Buddhis. Corona membuat kehangatan ini harus absen di tengah umat Buddha. Umat pun hanya mengandalkan fitur Facebook Live untuk kebaktian kali ini.

Sejak dua bulan lalu akibat pandemi virus corona

Begitu pula dengan tradisi Pindapatta nasional yang biasanya digelar sebulan sebelum Waisak. Kata ‘pindapatta‘ berasal dari bahasa Pali yang berarti ‘menerima persembahan makanan’ cjoutback.com

Biasanya, kurang lebih 40-50 biksuĀ akan berjalan dari Stasiun Jakarta Kota hingga ke Glodok. “Di sepanjang jalan, umat akan memberikan sumbangan ke dalam wadah yang dibawa biksu,” kata Joko.

“Tahun ketiga yang bertepatan dengan Ramadan tidak digelar perayaan Waisak. Biasanya sehari menjelang Waisak sudah ramai persiapan,” jelas pria yang akrab disapa Ahok ini.

Diakuinya, keputusan peniadaan peribadatan di kompleks percandian terluas di Asia Tenggara itu dilakukan untuk mencegah pandemi Covid-19 yang belum mereda.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Umat Buddha Jambi Rudy Zhang mengatakan, meski perayaan Waisak tidak bisa dilakukan secara bersama-sama di kompleks percandian Muarajambi, namun tidak mengurangi khidmat beribadah.

Abdul Haviz, pemuda pelestari cagar budaya mengaku keputusan peniadaan Waisak di Candi Muarajambi adalah langkah tepat. Upaya pencegahan penyebaran Covid-19 harus dilakukan oleh semua umat beragama. “Sejak tahun 2009, ini baru pertama perayaan Waisak tidak dilakukan di Candi Muarajambi,” katanya, Rabu.

Mereka mengikuti imbauan Ditjen Binmas Buddha, untuk Pujabakti dan Meditasi detik-detik Waisak tahun 2020 dilakukan secara dalam jaringan atau via internet. Umat Buddha bakal mengikuti di rumah masing-masing melalui laman website yang telah disebarkan.

“Semoga masalah pandemi ini secepatnya berlalu, sehingga kita semua bisa aktivitas normal kembali, dan yang sakit segera disembuhkan,” ujar Rudy Zhang.

Selama musim pagebluk Covid-19 itu, komplek percandian Muarajambi sudah dua bulan lebih ditutup, baik untuk peribadatan maupun kunjungan wisata. Meski ditutup, pemeliharaan bangunan cagar budaya peninggalan sejarah tetap dilakukan.