Kenali Fakta Mengenai Demam Lassa Virus yang di Tularkan dari Tikus

Kenali Fakta Mengenai Demam Lassa Virus yang di Tularkan dari Tikus

Kenali Fakta Mengenai Demam Lassa Virus yang di Tularkan dari Tikus

Demam Lassa atau Lassa fever adalah penyakit virus akut yang di bawa oleh tikus model Mastomys natalensis melalui kotoran atau urine tikus yang terinfeksi. Di lansir dari laman cjoutback.com, Virus ini merupakan virus hemoragik yang dapat membawa dampak pendarahan.

Di kutip dari laman idn poker88, Demam Lassa merupakan penyakit endemik yang pertama kali di temukan di Lassa, Nigeria, Afrika Barat, pada tahun 1969. Kini, penyakit ini banyak di temukan di Sierra Leone, Liberia, Guinea, dan Nigeria. Beberapa negara tetangga terhitung di ketahui berisiko karena tikus Mastomys tersebar di seluruh wilayah.

Penyakit ini dapat membawa dampak masalah paru-paru, jantung, neurologis, lebih-lebih dapat mengancam jiwa. Di perkirakan (perkiraan kasar) angka kejadiannya lebih kurang 100.000 hingga 300.000 masalah tiap-tiap tahun, bersama dengan angka kematian menggapai 5.000 kasus.

Apa saja fakta medis seputar demam Lassa? Berikut ulasan lengkapnya, terhitung sinyal dan gejala, proses penularan, diagnosis, langkah penanganan, hingga langkah pencegahannya.

1. Tanda dan gejala demam Lassa

Kemunculan gejala biasanya bertahap, bisa terjadi dalam 6-21 hari setelah infeksi terjadi. Pada 80 persen kasus, gejala tidak terdiagnosis atau ringan, seperti malaise umum, sakit kepala, dan sedikit demam. Namun, pada sekitar 20 persen kasus, ini bisa menjadi penyakit yang serius dan berakibat fatal.

Gejala dan tahap perkembangan demam Lassa meliputi:

  • Tahap 1 (hari 1-3): kelemahan umum, malaise, demam tinggi lebih dari 39 derajat Celsius, konstan dengan puncak 40-41 derajat Celsius
  • Tahap 2 (hari 4-7): sakit tenggorokan (dengan bercak eksudatif putih), sakit kepala, punggung, nyeri dada, nyeri perut, konjungtivitis (mata merah), mual, muntah, diare, batuk, proteinuria, anemia, tekanan darah rendah (sistolik kurang dari 100 mmHg)
  • Tahapan 3 (setelah 7 hari): pembengkakan wajah, kejang, pendarahan mukosa (mungkin terjadi di mulut, hidung, mata, vagina, atau saluran pencernaan), kebingungan atau disorientasi
  • Tahapan 4 (setelah 14 hari): koma dan kematian

Selain yang telah di sebutkan di atas, orang dengan demam Lassa mungkin juga menunjukkan gejala seperti:

  • Sulit bernapas
  • Kesulitan menelan
  • Hepatitis
  • Syok
  • Irama jantung tidak normal
  • Perikarditis atau pembengkakan kantung yang mengelilingi jantung
  • Tremor
  • Radang otak (ensefalitis)
  • Komplikasi paling umum adalah menyebabkan gangguan pendengaran, seperti ketulian yang mungkin permanen
  • Sekitar 15-20 persen pasien yang di rawat inap karena penyakit ini meninggal dunia. Namun, kematian akibat demam Lassa hanya sekitar 1 persen dari semua kasus.

Perempuan hamil di trimester ketiga kehamilan memiliki risiko kematian sangat tinggi. Ini juga dapat menyebabkan kematian janin pada sekitar 95 persen kasus ibu hamil yang terinfeksi.

2. Penyebab dan penularan demam Lassa

Demam Lassa terjadi akibat infeksi virus Lassa yang di bawa oleh hewan pengerat yang di kenal sebagai “tikus multimammate”, Mastomys natalensis. Tikus ini umum di jumpai di Afrika Barat dan di ketahui sebagai vektor atau inang virus Lassa.

Setelah tikus terinfeksi, virus dapat bertahan di tubuh tikus dalam jangka waktu yang lama, mungkin selama sisa hidupnya. Virus ini kemudian menyebarkan virus melalui kotoran, urine, atau air liur, atau ketika seseorang kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi tersebut.

Penularan virus ke manusia dapat terjadi dalam berbagai cara. Paling sering adalah melalui konsumsi dan inhalasi. Ini bisa terjadi saat seseorang menghirup urine atau feses tikus yang terinfeksi, yang mungkin terjadi ketika membersihkan kotoran; melalui luka dan luka terbuka; atau saat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

3. Diagnosis demam Lassa

Pada awalnya, demam Lassa mungkin di diagnosis berdasarkan pemeriksaan gejala, riwayat kesehatan, atau mendeteksi kontak pasien. Akan tetapi, sering kali gejala penyakit ini tidak spesifik dan menyulitkan diagnosis secara klinis.

Namun, demam Lassa harus di curigai pada pasien dengan demam 38 derajat Celsius atau lebih tinggi dan tidak memberikan respons yang baik terhadap obat antimalaria dan antibiotik.

Diagnosis umumnya menggunakan uji serologi imunosorben terkait enzim (ELISA) yang dapat mendeteksi antibodi IgM, IgG, dan antigen Lassa. Tes RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction) juga dapat di gunakan pada tahap awal penyakit.

4. Pengobatan untuk menangani demam Lassa

Saat ini, tidak ada vaksin yang telah di temukan untuk mengobati demam Lassa. Akan tetapi, beberapa vaksin potensial sedang di kembangkan.

Pemberian obat antivirus ribavirin di ketahui dapat membantu penderita memerangi virus Lassa. Memberi secara intravena di ketahui dua kali lebih efektif daripada oral. Pemberian obat di awal masa penyakit (6 hari sejak awal penyakit) juga di ketahui dapat mengurangi kematian hingga 90 persen.

Namun, menurut keterangan di laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), tidak ada bukti yang mendukung peran ribavirin sebagai pengobatan untuk demam Lassa. Penggunaan obat ini juga di anggap bukan solusi yang sempurna, karena ribavirin mungkin beracun dan teratogenik, melansir Medical News Today.

Perawatan lain untuk demam Lassa mungkin berfokus untuk pengelolaan gejala dan mempertahankan fungsi tubuh. Ini termasuk mengelola tingkat cairan, keseimbangan elektrolit, oksigenasi, dan tekanan darah.

5. Apakah penularan virus Lassa bisa di cegah?

Ada beberapa cara yang bisa di lakukan untuk mencegah penularan atau infeksi virus Lassa, meliputi:

  • Menghindari kontak dengan hewan pengerat Mastomys untuk menghindari penularan utama virus dari inangnya ke manusia, terutama di wilayah geografis di mana wabah terjadi
  • Menyimpan makanan dalam wadah tahan hewan pengerat
  • Menjaga kebersihan rumah untuk mencegah hewan pengerat masuk ke rumah
  • Mencuci tangan secara teratur
  • Menjauhkan sampah dari rumah
  • Tidak menggunakan hewan pengerat ini sebagai bahan makanan
  • Memelihara kucing
  • Menggunakan APD sesuai standar dan mengambil tindakan pencegahan saat kontak atau merawat pasien terinfeksi
  • Itulah beberapa informasi medis mengenai demam Lassa. Menjaga kebersihan adalah fokus utama yang bisa di lakukan untuk mencegah penularan virus tersebut.